JAKARTA, ELEVEN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta kembali aktif setelah vakum lima tahun. Kebangkitan ditandai dengan debat kandidat calon presiden BEM Selasa (15/4/2024) di Ruang Auditorium, IISIP, mahasiswa berharap terbentuknya BEM dapat mengakomodasi aspirasi mereka.
Dari pantauan Eleven, debat dimulai pukul 12.30 WIB dan disaksikan langsung oleh mahasiswa yang hadir dengan antusias. Momen ini diharapkan menjadi penghubung antara mahasiswa dan pihak kampus.
Salah satu mahasiswa IISIP, Kimi, mengungkapkan bahwa kembalinya BEM mampu memberikan harapan baru bagi dinamika kampus. Ia berharap BEM dapat menjadi wadah aspirasi mahasiswa dan membawa perubahan positif di lingkungan kampus.
“Kalau menurut saya, dengan aktifnya kembali BEM ini tuh bakalan bisa jadi jembatan antara mahasiswa dan pihak kampus buat menyuarakan aspirasi dan program-program kampus yang lebih baik lagi nanti. Cara terbaik tuh pastinya BEM harus lebih aktif lagi buat mendengar suara-suara dari mahasiswa dan juga harus merespon cepat terhadap isu-isu kampus yang terjadi,” ungkap Kimi saat diwawancarai Eleven.
Kimi menekankan pentingnya kekompakan dan perencanaan matang agar BEM dapat menjalankan tugas secara optimal. Ia berharap BEM tak sekadar simbol formal, tetapi benar-benar mewakili suara mahasiswa.
“Harapannya, semoga BEM bisa punya program-program yang menarik yang bisa bikin mahasiswa ngelirik program itu, terus juga dapat jadi representasi mahasiswa bukan kayak cuma simbol formal aja,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Issa, mahasiswa IISIP lainnya, yang mengapresiasi aktifnya kembali BEM. Menurutnya, ini merupakan langkah awal yang positif, mengingat selama BEM vakum, mahasiswa kesulitan menemukan wadah untuk menyuarakan aspirasi.
“Ini adalah salah satu langkah awal yang bagus, karena BEM ini adalah salah satu organisasi yang memang seharusnya mewadahi mahasiswa-mahasiswa. Karena sebelumnya tidak ada BEM, jadi kita sebagai mahasiswa di sini bingung mencari wadah untuk menyuarakan suara kita,” ujar Issa.
Issa menyoroti pentingnya komunikasi antara BEM dan mahasiswa. Hal ini diperlukan agar organisasi tetap dekat dan relevan dengan kebutuhan kampus.
“Cara terbaiknya adalah mereka harus lebih dulu mendekatkan diri kepada mahasiswa-mahasiswanya. Karena sekali lagi, mereka mendapatkan suara dari mahasiswa, jadi mereka juga harus bisa untuk mendekati mahasiswa-mahasiswa, dan ke depannya harus bisa mendukung juga suara-suara dari mahasiswa, dengan sumber daya manusia yang terbatas, BEM harus lebih aktif berkomunikasi dan mempererat relasi dengan seluruh mahasiswa” tegasnya.
Isa juga berharap BEM harus benar-benar menjadi wadah untuk menyuarakan hak-hak mahasiswa. Hal ini terutama penting bagi mahasiswa yang selama ini belum sepenuhnya didengar oleh pihak kampus.
“Aku berharapnya BEM ini benar-benar bisa jadi wadah yang dapat menyuarakan suara dan hak mahasiswa. Terlebih, hak-hak kita ke kampus. Karena yang sejauh ini aku perhatiin pun, banyak hak yang harusnya diterima oleh mahasiswa itu kurang didapatkan dari pihak kampus ini sendiri,” katanya.
Kembalinya BEM IISIP Jakarta disambut dengan harapan besar dari para mahasiswa. Mereka ingin BEM mampu menjalankan perannya secara maksimal dan menjadi agen perubahan yang positif di kampus.
Reporter: Novia Intan
Editor: Khalisha Putri