Identitas Film
Judul : KKN di Desa Penari
Genre : Horror
Tanggal rilis : 30 April 2022
Durasi : 121 menit
Sutradara : Awi Suryadi
Pemain : Aghniny Haque (Ayu), Aulia Sarah (Badarawuhi), Achmad Megantara (Bima), Tissa Biani (Nur), Adinda Thomas (Widya), Fajar Nugraha (Wahyu), Diding Boneng (Mbah Buyut), Calvin Jeremy (Anton), Kiki Narendra (Pak Prabu), Aty Cancer (Mbok Sundari)
Sinopsis Film
Kisah ini berawal dari sekelompok mahasiswa yang sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di suatu desa terpencil. Sejak kedatangannya, mereka wajib mematuhi beberapa aturan di desa. Namun, peraturan diabaikan begitu saja sehingga mereka mengalami kejadian tak terduga akibat ulahnya.
Sekelompok mahasiswa tersebut beranggotakan enam orang, yaitu Nur, Widya, Ayu, Bima, Anton, dan Wahyu. Mereka tidak pernah menyangka, ternyata desa tersebut bukanlah desa biasa. Sang kepala desa, Pak Prabu, telah memperingatkan mereka untuk tidak melewati batas gapura terlarang, serta wajib mematuhi beberapa peraturan lainnya.
Program KKN mereka mulai berantakan sejak sikap Bima berubah dan tampaknya, penghuni gaib di desa tersebut tidak menyukai kehadiran para mahasiswa tersebut. Dikarenakan hal tersebut, maka terjadilah beberapa kejadian janggal yang membuat mereka tidak tenang menjalankan KKN di desa ini. Hingga akhirnya fakta mulai terkuak, ketika Nur mengetahui bahwa sumber dari ini semua akibat ulah Ayu dan Bima. Keduanya melanggar aturan yang berlaku, yaitu melakukan hubungan terlarang.
Diselimuti rasa panik, akhirnya para mahasiswa tersebut meminta bantuan pada dukun setempat, yaitu Mbah Buyut. Namun sayangnya, ternyata mereka terancam tidak bisa pulang dengan selamat dari desa yang dikenal dengan sebutan desa penari tersebut.
Isi Resensi
Film ini diadaptasi dari cerita viral di akun Twitter @SimpleMan, bahkan berdasarkan kisah nyata. Jalan cerita yang kompleks dikupas dari penampilan inti masalah diawal memang sukses membuat penonton bersiap dengan segala kemungkinan terjadi.
Film ini terbilang sukses, karena tidak semua film bisa mengadaptasi suatu cerita. Pada film ini kita akan melihat dan merasakan suasana tegang dan perjuangan enam mahasiswa yang berusaha untuk keluar dari desa penari.
Kelebihan
Film ini menghadirkan suasana horror yang tidak biasa, karena tata musik dan suara yang cukup mencekam. Bagi yang menonton di studio bioskop dengan tata suara Dolby Atmos, terasa sekali bagaimana musik dan suara sangat membangun suasana horror yang mencekam di samping unsur artistiknya. Sinematografi yang dihadirkan membuat penonton terkesima, dan juga didukung dengan aktor yang berperan sangatlah bagus.
Kekurangan
Terdapat kekurangan dalam film ini yakni tidak seakurat berdasarkan cerita yang ada di Twitter, padahal terdapat beberapa point penting yang seharusnya diangkat ke filmnya. Latar belakang karakternya terasa samar, hal tersebut berdampak pada pengembangan karakter secara keseluruhan.
Hal tersebut juga membuat penonton kurang memahami atau mendalami setiap karakter yang ada di filmnya. Ada beberapa kata dalam bahasa jawa yang seharusnya diganti karena penggunaannya kurang pas. Seperti, nyelokoi (mencelakai) semestinya nyilakani, kata kelakuane bisa dikoreksi menjadi solahbawane atau tumindake, dan kata kelakuane bisa dikoreksi menjadi solahbawane atau tumindake.
Kesimpulan
Film ini bagus dan layak untuk ditonton oleh semua kalangan karena film ini terbagi menjadi dua versi, yakni versi cut yang bisa ditonton oleh semua kalangan,l dan versi uncut yang hanya bisa ditonton oleh kalangan dewasa, hal ini memantik euforia . Sepanjang jalan cerita penonton akan dibuat emosi, ketakutan, dan juga sedih dari aktor yang berperan. Terdapat nilai-nilai dan pesan tersirat yang bisa diterapkan penonton pada kehidupan sehari-hari.
Reporter: Paundra Zakirulloh
Editor: Rivera Jesica S.