JAKARTA, ELEVEN – Setelah vakum 11 tahun, Kongres Keluarga Mahasiswa (KM) IISIP Jakarta kembali digelar di Ruang AVA-B, Jumat (15/5/2026). Forum ini mengagendakan evaluasi AD/ART serta pembacaan Laporan Pertanggungjawaban Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) IISIP Jakarta, Raihan Nandiva, mengungkapkan bahwa kongres ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat roda organisasi kampus yang sempat terhenti sejak 2015 silam.
“Tujuan diadakannya kongres ini yaitu hendak merakit kembali semangat lama yang sudah tidak terjalin selama 11 tahun terakhir. Harapannya, kita dapat menyatukan arah dan konsep pikiran sebagai satu almamater, yaitu kampus IISIP tercinta,” ujar Raihan saat diwawancarai.
Meski berhasil diselenggarakan, Raihan mengaku kurang puas dengan jalannya forum. Ia menilai sebagian besar peserta masih pasif dan kurang kritis dalam menanggapi poin-poin pembahasan AD/ART. Menurutnya, hal ini menjadi indikator masih minimnya literasi mahasiswa mengenai hukum dan konstitusi organisasi.
“Pendapat saya pribadi kurang puas karena mayoritas audiens agak pasif. Dari argumentasinya bisa dilihat bahwa minimnya literasi terkait AD/ART, dan juga mungkin karena faktor kurangnya pengalaman (dalam forum formal),” sambung Raihan.
Pemandangan berbeda disampaikan oleh Presiden BEM IISIP Jakarta, Wilco Melvin Junior Colling. Ia menilai jalannya kongres cukup interaktif dan seru, walau sempat diwarnai dengan dinamika forum yang hangat. Wilco menambahkan, beberapa poin krusial termasuk revisi AD/ART BPM dan BEM kemungkinan besar akan diestafetkan ke kepengurusan berikutnya.
“Kongres hari ini menurut saya sendiri lumayan seru dan interaktif. Walaupun tadi tensinya sempat naik turun, namun kongres tetap bisa berakhir cukup mulus,” kata Wilco.
Dalam pembacaan LPJ, Wilco juga memaparkan sejumlah kendala yang dihadapi BEM selama satu periode kepengurusan. Mulai dari miskomunikasi antarlembaga hingga keterbatasan anggaran akibat menyusutnya jumlah mahasiswa aktif di kampus. Kondisi tersebut memaksa organisasi mahasiswa memutar otak mencari alternatif pendanaan secara kolektif dan donasi bersama Himpunan Mahasiswa (Hima) serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Di akhir wawancara, Wilco menitipkan pesan agar kepengurusan berikutnya tetap menjaga integritas dan keberanian mahasiswa. “Saya pribadi berharap BEM ke depannya bisa lebih berani bersuara dan terbuka jika terjadi ketidakadilan di lingkungan kampus,” pungkasnya.
Reporter : Neng Anggi Angrryini
Editor : Marsel Efraim Ananda