JAKARTA, ELEVEN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bersama Badan Permusyawaratan Mahasiswa (BPM) gelar aksi damai Senin, (08/09/2025). Aksi ini merupakan wujud solidaritas terhadap isu nasional sekaligus dukungan bagi perjuangan rakyat yang mengalami ketidakadilan selama gelombang aksi yang terjadi belakangan ini.
Melalui surat edaran resmi, aksi damai ini diselenggarakan di kampus IISIP Jakarta pada pukul 16.00 WIB. Ketua BEM IISIP, Wilco, menegaskan bahwa aksi terbuka untuk semua pihak, termasuk warga sekitar melalui undangan RT/RW setempat.
“Siapa saja boleh ikut ke dalam aksi simbolik 8 September 2025, kami juga telah mengundang warga sekitar melalui RT/RW setempat untuk turut berempati & membuka ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi dan keresahannya pada aksi besok” Saat diwawancarai Eleven, Minggu (07/09/2025).
Aksi kali ini menyoroti beberapa tuntutan utama, salah satunya kritik terhadap tindakan represif aparat yang dikaitkan dengan reformasi Polri. Menurutnya, anggaran besar untuk institusi tersebut dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan rakyat.
“Anggaran peredam aksi massa untuk institusi polisi terlampau besar. Setelah program makan bergizi gratis dan anggaran Kementerian Pertahanan, anggaran Polri berada di urutan ketiga terbesar. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar terkait keberpihakan negara pada rakyat,” ujar Wilco.
Selain itu, aksi ini turut menyoroti Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam menanggapi 17+8 tuntutan rakyat yang belakangan ramai diperbincangkan. Menurut Wilco, DPR hanya menyelesaikan isu tunjangan dewan, namun hasilnya tetap mengecewakan masyarakat.
“Pemangkasan tunjangan DPR masih menyisakan angka besar, sekitar Rp60 juta per anggota dewan. Itu sangat tidak adil, karena tidak membuahkan hasil yang memihak rakyat,” tambahnya.
Konsep aksi ini dirancang melalui penyalaan lilin, doa bersama untuk korban ketidakadilan, serta pembacaan puisi oleh mahasiswa. Wilco menegaskan sejak awal, seluruh rangkaian aksi dipastikan berjalan damai hingga akhir pelaksanaan.
“aksi simbolik sudah dipastikan akan berjalan dengan damai dari awal hingga akhir aksi terlaksana, karena aksi simbolik ini kami konsepkan dengan menyalakan lilin dan berdoa bersama untuk korban ketidakadilan di negara ini, dilanjutkan dengan penampilan puisi dari kawan-kawan kami” tambahnya.
BEM dan BPM menegaskan bahwa aksi simbolik dilaksanakan di kampus sebagai wujud partisipasi mahasiswa dalam mengawal isu nasional. Melalui aksi ini, diharapkan kepekaan mahasiswa terhadap persoalan rakyat semakin tumbuh dan keberpihakan tetap terjaga.
Reporter: Malika Khairotuzzahra
Editor: Khalisha Putri