JAKARTA, ELEVEN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IISIP Jakarta gelar Seruan Aksi perdananya, Kamis (19/06/2025) di Halte IISIP Jakarta. Mereka menuntut pencabutan status tersangka bagi peserta aksi May Day dan penghentian izin tambang PT GAG NIKEL di Raja Ampat.
Dari pantauan Eleven, seruan aksi dimulai pada pukul 15.30, mahasiswa terlihat membawa perlengkapan seperti banner dan menyuarakan orasi. Para pendemo terlihat mengenakan almamater sebagai identitas saat menyampaikan tuntutan mereka.
Sebelum aksi digelar, Wilco Melvin selaku ketua BEM memastikan segala persiapan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Hal ini dilakukan demi menjaga citra kampus dan menunjukkan aksi berjalan secara tertib serta terstruktur.
“untuk persiapan yang pertama kita harus mengikuti prosedur karena sudah susah payah pihak kampus menaikan nama kampus diberbagai lini, seperti SMA sekitar, dan saya mengikuti prosedur dan mengikuti aksi dengan santun dan terstruktur.” jelas Wilco saat diwawancarai Eleven, Kamis (19/06/2025).
BEM mengajak massa aksi melalui akun Instagram resmi dengan menyebarkan flyer jelang aksi berlangsung. Mereka juga menyediakan file PDF berisi advokasi, konsolidasi, dan kajian aksi yang dapat diakses seluruh mahasiswa IISIP Jakarta.
Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur paksaan dalam mengikuti aksi tersebut. Menurutnya, aksi ini menjadi langkah awal untuk menunjukkan pentingnya aksi massa di lingkungan perguruan tinggi.
“Tidak ada, disini kami tidak ada paksaan untuk mengikuti. Aksi ini sebagai ajang permulaan bahwa aksi massa itu penting dilakukan di kampus. Apalagi kita sebagai akademis diranah perguruan tinggi.” Tambahnya.
Tuntutan yang disuarakan terkait pencabutan status tersangka tenaga medis aksi May Day, serta penghentian aktivitas pertambangan PT GAG NIKEL di Raja Ampat. BEM menilai kasus-kasus tersebut menjadi bukti nyata ruang demokrasi di Indonesia semakin menyempit dan menyimpang dari nilai konstitusional.
“Outputnya adalah kita ingin menyadarkan bahwa negara ini menjunjung tinggi asas-asas pancasila, asas demokrasi dan menyatakan pendapat. Saya ingin menekankan bahwa kasus ini merupakan kasus penyimpangan dari asas pancasila” tambahnya.
Terkait keamanan, BEM menyebut telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Rektor dan melakukan advokasi ke Wakil Rektor serta biro kemahasiswaan mengenai rencana aksi. Selain itu, pengamanan aksi turut dikoordinasikan dengan Polsek Jagakarsa yang akan memastikan ketertiban selama jalannya demonstrasi.
“Pihak kampus lebih ke mempersilahkan, karena kita menggunakan fasilitas umum yang di mana bukan ada didalam kampus, tentu kita harus melaksanakan aksi dengan terstruktur tanpa menganggu ketertiban masyarakat” tegasnya.
BEM menambahkan bahwa pihak kampus turut menyampaikan kekhawatiran terkait aksi yang akan digelar. Ia menyebut, kekhawatiran utama berasal dari kemungkinan adanya penyusup yang bukan merupakan bagian dari BEM IISIP Jakarta.
“Ada, tentunya saya sudah berdiskusi dengan kemahasiswaan, ketakutan nya adalah ketika aksi dilaksanakan di khawatirkan akan ada penyusup yang bukan bagian dari kami (BEM IISIP),”ujarnya.
Menghindari hal tersebut BEM menjelaskan akan melakukan pendataan peserta sebelum kegiatan dimulai. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi agar aksi tetap berjalan aman dan tertib.
Mahasiswa yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), Raihan Nandifa, turut memberikan apresiasi atas aksi yang digelar oleh BEM. Ia menilai momentum ini menjadi awal yang penting dalam membangkitkan kembali semangat gerakan mahasiswa di kampus.
“Saya mahasiswa sekaligus Ketua BPM, ini menjadi euforia yang ditunggu-tunggu sebenarnya. Karena diketahui, BEM kan sempat vakum beberapa tahun lamanya. Terkait dengan aksi ini, aksi ini sebagai pemantik awal untuk aksi-aksi besar selanjutnya,” kata Raihan saat diwawancarai Eleven Kamis (19/06/2025).
Raihan menambahkan harapannya kepada BEM sebagai organisasi eksekutif kampus dapat menjalin koordinasi yang lebih jelas dan terbuka. Menurutnya, komunikasi yang solid antar lembaga mahasiswa akan memperkuat dampak dari setiap aksi maupun program yang dijalankan.
Reporter : Riski Maulida
Editor : Khalisha Putri Septiani