makan ads kontol mu itu
  • About
  • Contact
  • Privacy Policy
himajur.com
  • Home
  • E-Penerbitan
  • E-Radio
  • E-Foto
  • E-Tv
No Result
View All Result
himajur.com
  • Home
  • E-Penerbitan
  • E-Radio
  • E-Foto
  • E-Tv
No Result
View All Result
himajur.com
No Result
View All Result

Film: Merindu Cahaya de Amstel

Humas Himajur by Humas Himajur
27 Januari 2022
in E-Penerbitan
0
0
SHARES
32
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Identitas Film

Related Posts

Setelah Vakum 11 Tahun, Kongres KM IISIP Jakarta Kembali Digelar

Nilai Tukar Rupiah Terpuruk, UMKM Ikut Terdampak

Kemendikti Kaji Penutupan Prodi, Dinilai Tak Relevan dengan Dunia Kerja

BEM IISIP Jakarta Gelar “Project Morphy” Tingkatkan Kreativitas Fotografi Mahasiswa

Judul : Merindu Cahaya de Amstel

Genre : Religi romansa

Tanggal rilis : 20 Januari 2022

Durasi : 107 menit

Sutradara : Hadrah Daeng Ratu

Pemain : Amanda Rawles (Khadija), Bryan Domani (Nicho), Rachel Amanda (Kamala), OKI Setiana Dewi (Fatimah), Ridwan Remin (Joko), Maudy Koesnaedi (Ibu Kamala), Dewi Irawan (Bibi Kamala), Rita Nurmaliza Alizar, Floris Bosma (Niels), Yasmin Karssing, Angele Roelofs (Ibu Khadija), dan Allard Warnas (Mister Gustaaf)

Sinopsis Film 

Kisah Merindu Cahaya de Amstel bermula dari Marien Veenhoven, seorang wanita asal Belanda dan memiliki hidup yang bebas. Ia telah mencoba semua hal buruk bahkan hampir membuatnya meninggal dalam proses pencarian jati dirinya. Hingga akhirnya Marien Veenhoven bertemu Fatimah yang menyelamatkan dan menuntun dirinya ke jalan yang benar. Marien Veenhoven memutuskan untuk memeluk agama islam dan mengganti namanya menjadi Khadijah Veenhoven.

Seiring berjalannya waktu Khadijah berjumpa dengan seorang fotografer bernama Nicolaas Van Dijk atau Nico. Ia merupakan mahasiswa arsitektur dan berprofesi sebagai fotografer di sela-sela kesibukan kuliahnya. Suatu hari ketika Nico sedang memotret suasana dan pengunjung Museumplein, kameranya tanpa sengaja mengabadikan sosok gadis berhijab. Dia merasa tidak pernah memotret gadis itu dengan sengaja.

Tapi saat dia melihat hasil foto yang dia ambil hari itu, dia menemukan salah satu foto gadis itu. Yang membuatnya penasaran, dalam foto itu, tubuh gadis itu terlihat bagai memancarkan cahaya. Nico membuat Khadija penasaran dan mengingatkannya pada sosok ibunya.

Setelah mengenal lebih dekat, Nico jatuh hati pada gadis berkerudung itu. Namun Khadija memilih menjauh ketika muncul Mala, gadis Indonesia yang kuliah di Amsterdam dan ia tolong saat ada pencopet. Mala mengaku menyukai Nico dan juga memutuskan untuk berhijab. Takdir membawa mereka menjadi sahabat yang memendam rasa satu sama lain. Cinta segitiga membuat mereka akhirnya justru terpecah belah.

Ulasan

Film yang terinspirasi dari kisah nyata dan adaptasi dari novel karya Arumi Ekowati bertabur bintang muda dan senior yang tak perlu diragukan lagi aktingnya. Menghadirkan kisah perjalanan hidup seorang gadis mualaf bernama Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) yang dewasa, cerdas, dan memiliki pikiran matang menjadi hal menarik dalam film ini. Ditambah film ini memiliki latar belakang negara Belanda sehingga penonton merasa film ini memang nyata. Selain itu film Merindu Cahaya de Amstel juga menghadirkan konflik antarsahabat yang menambah keseruan cerita. Sahabat Khadija bernama Kamala ternyata menyukai Nico. Padahal, Nico mengagumi sosok Khadija. Film ini dibalut dengan romansa percintaan non muslim hingga mualaf yang membuat penonton penasaran dan tersentuh. Tidak hanya adegan yang membuat penonton sedih dan terharu, tetapi peran Joko yang lucu mampu menjadi hiburan penonton.

Kesimpulan

Film ini sangat bagus dan layak menjadi salah satu tontonan di bioskop khususnya untuk penganut agama muslim karena jalan ceritanya berisi pembelajaran tentang Islam. Selain itu banyak kejadian yang sebenarnya relate dengan kehidupan sehari-hari sehingga menyadarkan penonton akan pentingnya taubat, istiqomah menjadi lebih baik, menghargai satu sama lain, dan arti sahabat. Dari film ini penonton dapat mengerti bahwa Allah akan selalu menerima taubat hambanya, tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Kualitas aktor pada film ini berhasil menciptakan emosi haru sehingga penonton tanpa sadar tersenyum, sedih, dan tertawa.

 

Reporter: Siti Nurhaliza

Editor: Rivera Jesica S.

Tags: 2022E-Penerbitanfilmmerindu cahaya de amstel
Next Post

Timnas Indonesia Bantai Timor Leste 4-1

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Posts

E-Penerbitan

Setelah Vakum 11 Tahun, Kongres KM IISIP Jakarta Kembali Digelar

by Humas Himajur
19 Mei 2026
0

JAKARTA, ELEVEN – Setelah vakum 11 tahun, Kongres Keluarga Mahasiswa (KM) IISIP Jakarta kembali digelar di Ruang AVA-B, Jumat (15/5/2026)....

Read more

Setelah Vakum 11 Tahun, Kongres KM IISIP Jakarta Kembali Digelar

Nilai Tukar Rupiah Terpuruk, UMKM Ikut Terdampak

Kemendikti Kaji Penutupan Prodi, Dinilai Tak Relevan dengan Dunia Kerja

BEM IISIP Jakarta Gelar “Project Morphy” Tingkatkan Kreativitas Fotografi Mahasiswa

May Day 2026, Buruh Kembali Tuntut Penghapusan Outsourcing

BEM dan Hima Kesos IISIP Gelar Edukasi Kebersihan bagi Anak-anak

Load More

[mc4wp_form id="274"]


Popular Posts

Resensi Film: Agak Laen (2024)

by Humas Himajur
14 Februari 2024
1

Korean Lunch Box Cake, Kue Mini dan Unik

by Humas Himajur
28 September 2021
1

Perayaan Natal di Gereja GPIB Pengharapan Cibinong

by Humas Himajur
25 Desember 2020
0

Himajur

Gunakan Pena Menulis dan Bertindak.

Navigasi
  • Home
  • E-Penerbitan
  • E-Radio
  • E-Foto
  • E-Tv
Menu
  • About
  • Contact
  • Privacy Policy
© 2020 Himajur – Himpunan Mahasiswa Jurnalistik
No Result
View All Result
  • Home
  • E-Penerbitan
  • E-Radio
  • E-Foto
  • E-Tv

© 2020 Himajur - Himpunan Mahasiswa Jurnalistik. Design by Faza

makan ads kontol mu itu