BEKASI, ELEVEN – Kisah haru datang dari atlet catur muda, Muhammad Wildan Kautsar. Ia merupakan penyandang tunanetra asal Depok. Kisahnya menciptakan kesedihan yang cukup menguras air mata karena dirinya ikhlas menerima kehilangan penglihatannya. Sempat merasa semua ini tak adil, Wildan kini kembali mempunyai semangat tinggi setelah menetap di panti daerah Jakarta Timur. Tempat itulah ia banyak mendapatkan pelajaran bahwa keterbatasan fisik tidak menyurutkan niat seseorang untuk tetap melangkah mengukir prestasi.
Berawal dari Hal Sepele Hingga Berakhir Fatal
Tak menyangka, benda yang tiap harinya selalu ada digenggamannya kini membuat Wildan, siswa SMA Negeri 54 Jakarta ini harus kehilangan penglihatannya pada usia 11 tahun, saat ia tinggal bersama keluarga besar ibunya di Sumatra sejak usianya tiga bulan. Berawal di usia 8 tahun, ia yang gemar menatap layar smartphone dalam gelap secara terus menerus tanpa menyadari hal buruk yang akan terjadi. Selain itu, aktivitas melihat layar televisi dengan jarak dua jengkal dari pandangannya juga menjadikan dirinya sebagai seorang tunanetra.
Kehilangan penglihatan yang Wildan alami tidak berlangsung begitu saja. Semua kebiasaan buruk yang ia lakukan awalnya membuat kesehatan matanya tergganggu. Matanya minus secara bertahap hingga mencapai minus tujuh. Berbagai saran yang terlontar dari orang sekitar membuat orang tuanya percaya dalam waktu singkat. Kala itu, hanyalah tetesan obat yang menjadi jalan satu-satunya. Namun, semua harapan pupus setelah Wildan mengetahui bahwa obat yang selama ini ia konsumsi hanya membuat kondisi matanya semakin memburuk. Kepercayaan kilat orang tuanya bukan hanya itu saja, dokter yang memeriksa keadaan matanya ternyata bukan dokter spesialis mata, melainkan dokter yang sedang menjalani proses magang. Rumah Sakit Persahabatan daerah Sumatra, di tempat itulah ia mengetahui bahwa obat yang selama 1,5 tahun ia konsumsi hanya mengendap di belakang bola mata. Kenyataan ini membuat Wildan harus menjalani operasi mata.
Wildan menceritakan sebelum melakukan proses operasi, dokter mengatakan operasi yang Wildan jalani tidak menjamin kesembuhan matanya.
“Sebelum operasi, dokternya bilang, saya cuman bisa menjalani operasi ini sampai menghilangkan penyakitnya, tapi saya tidak bisa menjamin untuk kesembuhan seperti awal lagi,” ungkap Wildan, Jumat (28/01/2022).
Wildan menjalani operasi kedua matanya sekitar Juli 2010. Setelah operasi sudah berlangsung, perban yang menutupi matanya kurang lebih selama dua bulan itu sudah dapat dilepas kembali. Akan tetapi, perubahan yang ia rasakan mematahkan semua harapan. Matanya yang dapat melihat sekitar sepuluh meter sebelum menjalani operasi, kini penglihatannya hanya terjangkau tiga meter. Wildan juga merasakan kejanggalan pada mata kirinya setelah operasi. Keluhan itu membuat mata kirinya harus menjalankan operasi kedua. Operasi kedua inilah yang membuat Wildan sepenuhnya harus kehilangan penglihatan. Kegelapan ia rasakan pada mata kirinya sedangkan penglihatan pada mata kanannya tersisa sekitar lima puluh sentimeter, hingga sekarang.
Wildan dan keluarga pun hanya mampu pasrah dan berserah diri kepada tuhan atas hal yang dialaminya. Berbagai usaha untuk menolak keadaan sudah dilakukan. Rasa takut semuanya tidak kembali membaik, terus mengelabui pikiran. Mulai dari terapi, lalu obat-obat berbau kedokteran, herbal, tumbuhan, hingga hewani sudah dijalani. Namun, semuanya hanyalah sia-sia. Saat umur sebelas tahun itulah Wildan harus merasakan hidup tanpa melihat indahnya dunia. Wildan juga menunda pendidikannya selama empat tahun.
Menjalani Hidup Sebagai Seorang Tunanetra Tentu Tidak Mudah
Keadaan mengharuskan Wildan untuk melanjutkan kehidupannya di Jakarta. Di sanalah tempat ia mengukir cerita dengan kehidupan dan suasana yang baru. Ukiran diisi dengan suka duka yang ia rasakan. Tetapi, ukiran itulah yang membuat ia bangkit akan kehidupan yang harus ia jalani. Usia dua belas tahun, ia memulai hidupnya dari awal di Jakarta.
Panti PSBN Cahaya Bathin, bertempat di Jalan Taman Harap Segeraan No.12, Keramat Jati, Jakarta Timur itulah yang menjadi pilihan tempat tinggal sekaligus belajar. Di gedung bertingkat dua itu, terdapat beberapa ruangan luas dengan banyaknya gading blok juga trelling sebagai hal unik dari gedung tersebut. Banyaknya pepohonan juga rumput yang tumbuh mengelilingi lapangan yang luas. Tempatnya yang bersih dan adem menciptakan kenyamanan. Keunikan juga ada pada banyaknya kerajinan tangan yang merupakan karya dari anak-anak panti. Keunikan lainnya juga terdapat ruangan khusus layaknya menyambut tamu, yang disertai tayangan video sebagai pengenalan panti tersebut.
Terdapat 136 orang disabilitas dengan 86 lainnya merupakan tunanetra. Pastinya Wildan merasakan perbedaan dari segi pembelajaran. Membaca dan menulis merupakan perbedaan menonjol yang ia rasakan, seperti tulisan timbul. Beberapa pengajar juga memiliki keadaan yang sama dengan dirinya.
Di panti itulah ia banyak belajar soal kehidupan yang membuat ia bisa terus bangkit. Bertemu banyak penyandang disabilitas yang memiliki kondisi di bawah apa yang sedang Wildan rasakan, semakin membuat ia kuat untuk mengikhlaskan keadaannya. Belum lagi dengan banjirnya cibiran dari orang sekitar. Awal semua ini memang membuat Wildan merasa sang pencipta tak adil, tetapi semua itu kandas ketika ia melihat banyak kenyataan yang seolah menampar keluhannya.
“Awalnya sih merasa ya kok Allah ga adil? Kok Allah menciptakan makhluknya ga adil? Tapi setelah tau dari TV atau dari manapun ternyata sesama kita yang lebih mempunyai kekurangan lebih dari kita tapi mereka bisa. Bahkan mereka lebih parah dari kita lantas buat apa menyesal, mau menyerah. Banyak bersyukur,” jelas Wildan.
Berpegang teguh dengan prinsip bahwasannya semua manusia itu sama, kekurangan atau kelebihan yang orang miliki bukan penghalang untuk segalanya. Itulah yang membuat Wildan terus semangat dalam mencoba berbagai hal yang menurut orang lain itu aneh untuk dilakukan tunanetra. Banyak yang mengatakan “mereka yang disabilitas bisa apa?” memanglah terdengar sedih dan menyakitkan. Wildan yang awalnya berusaha cuek ternyata membuat semua omongan itu semakin menjadi. Wildan menganggap mungkin semua itu memanglah kebahagiaan mereka. Sakit yang ia rasakan seolah sudah tak ada lagi obat.
Ia tak bisa terus menerus larut dalam kesedihan dan penyesalan. Wildan mengisi waktu dengan kegiatan yang semulanya hanya sekedar mencoba dan belajar. Mulai dari atletik, tenis meja, renang, hingga akhirnya catur. Catur memiliki kekuatan tersendiri karena soal strategi peperangan yang membuat ia teratrik sejak usianya 7 tahun dan ingin terus belajar. Teknik yang ia pelajari, cara main, dan lainnya soal catur ia tekuni dari teman-temannya sesama tunanetra di Jakarta Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Bisa karena terbiasa. Berawal di tahun 2014 memulai semuanya hingga 2017 terus memperdalam catur. Bermain dengan teman-teman yang sudah ditingkat nasional hingga provinsi membuat semangat Wildan menggebu-gebu. Tahun 2018 ia mendapatkan guru yaitu Mba Firda dan Mba Debi yang merupakan atlit catur disabilitas tunanetra asian games 2018.
Berawal dari kesedihan hingga membangkitkan semangat dan menciptakan ketekunan membuat Wildan bisa mengikuti kompetisi catur tingkat wilayah di GOR Ciracas dan mendapat gelar juara 1. Pencapaian itu membuat ia semakin semangat untuk terus melangkah mengukir prestasi. Ia juga diminta mewakili Jakarta Timur untuk lanjut ke tingkat provinsi di Solo. Meski hanya mendapat urutan 29 dari 46 peserta, hingga saat ini ia terus bermain catur dan mengikuti kompetisi lainnya.
Setelah melalui berbagai macam rintangan dan ujian yang dihadapi, Wildan mengambil banyak pelajaran hidup yang sangat berharga. Wildan mengatakan bahwa kita jangan pernah menyepelekan hal sekecil apapun dan harus selalu mengingat bahwa penyesalan selalu datang diakhir.
“Ya khususnya sekarang bagi kita ya berhati-hatilah dengan hal yang sepele sebenarrnya kalo main hp itu kan hal sepele, tapi akibatnya itu fatal. setelah merasakan akibatnya baru menyesal, menyesalkan datengnya diakhir,” jelasnya.
Wildan memiliki motivasi hidup bahwa jangan pernah percaya dengan perkataan seseorang. Semuanya tergantung pada kemauan bagaimana kita ingin mencapainya. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, selagi kita yakin. Buat kalian yang memiliki impian dan cita-cita, janganlah mudah menyerah dan tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Reporter: Siti Nurhaliza
Editor: Rivera Jesica S.