JAKARTA, ELEVEN – Di tengah padatnya kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat, barisan warga tampak mengular di depan Wihara Dharma Bhakti saat perayaan Tahun Baru Imlek. Ibu-ibu, lansia, hingga anak-anak menunggu dengan tertib, berharap mendapatkan paket berbagi berkah yang menjadi tradisi tahunan sekaligus simbol kepedulian sosial lintas budaya.
Antrean didominasi warga sekitar, mulai dari ibu-ibu yang menggendong anak, pria paruh baya, hingga anak-anak yang mendampingi orang tuanya. Meski harus berdiri cukup lama dan barisan antrean memanjang hingga ke sisi jalan, suasana tetap tertib dan kondusif. Sesekali terdengar percakapan ringan di antara warga yang menunggu giliran, menciptakan nuansa kebersamaan di tengah keramaian kawasan pecinan tertua di Jakarta tersebut.
Kegiatan berbagi ini menjadi salah satu tradisi tahunan yang dinanti masyarakat. Paket sembako, makanan khas Imlek, hingga angpao dibagikan kepada warga sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus ungkapan rasa syukur dalam menyambut tahun baru.
Salah satu warga, Siti (43), mengaku telah beberapa kali mengikuti kegiatan tersebut. Ia bahkan datang sejak pagi untuk mendapatkan nomor antrean.
“Alhamdulillah, setiap tahun ada pembagian seperti ini. Lumayan membantu untuk kebutuhan rumah tangga. Yang penting bukan Cuma dapat bantuannya, tapi juga merasa diperhatikan,” ujar Siti saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar bantuan materi, melainkan juga menjadi simbol kebersamaan di tengah keberagaman warga sekitar. Ia menilai perayaan Imlek di kawasan Petak Sembilan selalu menghadirkan suasana hangat yang mencerminkan nilai toleransi antarumat beragama.
Tradisi berbagi saat Imlek memang memiliki makna mendalam. Dalam budaya Tionghoa, berbagi rezeki dipercaya dapat membawa keberuntungan atau hoki, baik bagi pemberi maupun penerima. Nilai inilah yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi jembatan sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat.
Di tengah hiruk pikuk kota dan padatnya pemukiman, antrean panjang tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kepedulian sosial masih tumbuh kuat. Perayaan Imlek di Wihara Dharma Bhakti tidak hanya menjadi momentum religius, tetapi juga ruang untuk berbagi kebahagiaan bagi siapa saja yang hadir dan menunggu dengan penuh harapan.
Namun, di balik semangat berbagi tersebut, terkadang muncul dinamika yang sulit dihindari. Ada pihak yang merasa berhak menerima dan memaksakan diri untuk mendapatkan bagian, meski kuota telah ditentukan. Situasi ini kerap menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah pembagian tersebut merupakan kewajiban mutlak yang harus diterima semua orang.
Padahal, esensi tradisi berbagi saat Imlek bukan semata-mata tentang mengejar keberuntungan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial sekaligus ajakan untuk saling membantu, terutama bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Nilai yang ingin ditegakkan adalah empati dan rasa syukur, bukan tuntutan. Dengan memahami makna tersebut, tradisi ini diharapkan dapat terus berjalan dengan tertib, penuh penghormatan, serta tetap berakar pada semangat saling merangkul sesama.
Reporter : Muhammad Ibnu Maulana
Editor : marsel Efraim ananda