JAKARTA, ELEVEN- Nilai tukar rupiah melemah, per kamis (14/5/2026) rupiah menyentuh Rp17.470 perdolar Amerika Serikat. Kondisi ini merupakan titik terendah rupiah pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus mempertegas tren pelemahan mata uang sepanjang tahun 2026.
Research& Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Tiffani Safinia menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat dolarAS menguat dan menekan nilai tukar rupiah di pasar global.
“Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” ujar Tiffani, dikutip antaranews.com
Pelemahan rupiah ini berdampak langsung pada sektor Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat membuat pelaku usaha khawatir terhadap kenaikan beban produksi, dan menurunnya omzet penjualan.
Akibat biaya produksi yang semakin tinggi, membuat harga jual ditingkat konsumen ikut naik. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu inflasi karena harga berbagai kebutuhan masyarakat menjadi lebih mahal.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda mengagungkan pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation dalam beberapa bulan ke depan. Dampaknya diperkirakan terasa pada kenaikan biaya distribusi dan harga barang impor di pasar domestik.
“Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, barang penolong, maupun barang konsumsi,” tegasnya seperti dikutip dari kompas.com.
Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap harga barang tidak semakin besar. Langkah antisipasi dinilai penting untuk melindungi sektor UMKM dari dampak berkepanjangan.
Reporter: Ainina Rahmaninda Kamal
Editor: Ani Ratnasari