BEKASI, ELEVEN – Indonesia menargetkan pada 2030 untuk mengakhiri kasus HIV/AIDS. Rohmadtika Dita, Kepala Jurusan (Kajur) Jurnalistik IISIP Jakarta mengungkapkan bahwa pendidikan seks sejak dini merupakan upaya penting untuk keberhasilan mengurangi kasus infeksi HIV baru, kematian karena AIDS, dan stigma serta diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Pendidikan seks sangat penting dan harus dimulai sedini mungkin. Dengan pengenalan pendidikan seks sedini mungkin, akan menciptakan pemahaman untuk generasi muda agar tidak terinfeksi HIV/AIDS, serta menghindari kekerasan seksual,” ujar Dita saat diwawancarai Eleven via Whatsapp, Rabu (1/12/2021).
Ia juga menambahkan, pendidikan seks harus mulai diberikan sejak masa anak-anak, di bangku TK (pre school) dan sekolah dasar (SD). Pendidikan tersebut dimulai dari pengenalan dasar seperti pengenalan organ tubuh dan fungsinya, bagian tubuh mana yang boleh disentuh atau tidak boleh disentuh oleh orang lain, kesehatan organ reproduksi, dan batasan antara laki-laki dan perempuan.
DIlansir dari Kompas.com, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi M. Epid. mengatakan bahwa ditengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini, HIV/AIDS tidak boleh luput dari perhatian dan pentingnya melakukan kolaborasi.
“Semangat kolaborasi yang kuat untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya remaja, tentang pencegahan IMS dan kesehatan reproduksi itu sangat penting,” kata Nadia dalam diskusi daring bertajuk Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas Antar Pemangku Kepentingan untuk Menuju 10 Tahun Akhiri AIDS di 2030.
Dita juga menjelaskan, terdapat beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian dalam melakukan pendidikan seks yaitu melakukan pendidikan seks pertama kali dalam lingkungan rumah. Orang tua berperan besar dalam membangun komunikasi yang baik dengan anak untuk memberikan penjelasan mengenai apa itu seks.
Selain itu, pendidikan seks juga harus diberikan di sekolah oleh guru atau pakar seksualitas. Harus ada penjelasan bahwa persoalan seks bukan lagi hal yang tabu dibicarakan di kalangan masyarakat. Pendidikan seks harus berbicara mengenai apa itu jenis kelamin, organ seks dan fungsinya, batasan ketika laki-laki dan perempuan berteman, kesehatan alat reproduksi, serta akibat dari seks bebas seperti penyakit HIV/AIDS, kehamilan, aborsi, dll.
Ia juga menilai besarnya terpaan media terutama di media sosial menimbulkan dampak yang luar biasa besar, terutama terkait konten seksualitas. Melalui pendidikan di rumah, di sekolah, dan peran media juga sangat penting dalam mengkampanyekan gerakan pencegahan HIV/AIDS.
Reporter : Anasthasya Angel dan Siti Nurhaliza
Editor : Rivera Jesica S.