JAKARTA, ELEVEN – Sejumlah Himpunan Mahasiswa (Hima) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di IISIP Jakarta terpaksa memutar otak untuk menutupi biaya kegiatan. Dana Kemahasiswaan (Dankem) yang diberikan pihak kampus dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan operasional, sehingga organisasi mahasiswa kini mengandalkan Dana Usaha (Danusan).
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Manajemen Komunikasi (Himakom), Salwa Salsabila, mengungkapkan bahwa dana sebesar Rp3 juta yang diterima organisasinya bahkan tidak cukup untuk membiayai satu program kerja (proker) secara utuh.
“Untuk satu proker sebenarnya belum cukup, tapi bantuan dari kampus ini tetap membantu. Kami menyiasati kekurangan tersebut dengan Dana Alokasi Program (DAP) dan uang kas yang sudah ada sebelumnya,” jelas Salwa.
Kondisi serupa juga dialami UKM Kremmasi. Ketua Umum Kremmasi, Tessa, menyebutkan dana sebesar Rp3 juta tergolong sangat terbatas, terlebih dengan beberapa agenda kegiatan yang harus dilaksanakan dalam waktu berdekatan.
“Kalau dibilang kurang, ya kurang. Agenda terdekat kami ada pelantikan, lalu ada proker anggota muda yang akan menggelar sebuah acara (event),” kata Tessa.
Ia menambahkan bahwa Kremmasi rutin mencari pemasukan tambahan melalui kegiatan usaha mandiri dan penampilan musik.
“Antisipasinya kalau dari kremasi pasti selalu yang pertama kita pasti ada dana usaha sendiri. Jadi enggak ngarepin kampus, tapi kita cari duit sendiri kayak jualan terus manggung, gitu-gitu sih,” lanjutnya.
Keluhan lebih tajam datang dari Ketua Umum PAB Caterva, Iqbal. Menurutnya, Dankem yang diterima sangat jauh dari kebutuhan kegiatan luar ruang yang menjadi ciri khas UKM mereka.
“Jauh dari kata cukup. Kegiatan Caterva seperti pendakian gunung, panjat tebing, dan arung jeram membutuhkan biaya jauh di atas Rp3 juta,” tegas Iqbal.
Untuk menutupi defisit tersebut, Caterva mengandalkan iuran kolektif anggota, bantuan alumni, serta dana usaha.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi), Fauzan, menyebut dana dari kampus hanya mampu menutup satu dari sekian banyak rencana kegiatan.
“Satu kegiatan mungkin tertutup, tapi kami masih punya lima atau enam proker lagi ke depan. Karena Dankem kurang, kami lebih mengupayakan danusan,” ujar Fauzan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) IISIP Jakarta, Raihan, menjelaskan besaran Dankem disesuaikan dengan aktivitas dan portofolio setiap organisasi. Ia menegaskan dana dari kampus bukan menjadi sumber pembiayaan utama bagi kegiatan mahasiswa.
Reporter: Ani Ratnasari
Editor : Marsel Efraim Ananda