JAKARTA, ELEVEN – Pada momen Idul Adha 1446 H, isu pencemaran lingkungan akibat pengelolaan limbah hewan kurban yang kurang ramah lingkungan menjadi perhatian. Berbagai pihak pun menggalakkan konsep “Eco Qurban” untuk menjaga kelestarian alam di tengah semangat berbagi yang identik dengan hari raya kurban.
Program Eco Qurban yang diinisiasi oleh Yayasan Bina Bhakti Lingkungan menjadi contoh konkret pelaksanaan ibadah kurban yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Salah satu praktik utamanya adalah penggunaan besek bambu atau daun sebagai pengganti kantong plastik.
Tak hanya soal kemasan, pengolahan limbah seperti darah dan jeroan juga dilakukan secara aman agar tidak mencemari tanah dan perairan. Prosedur ini penting guna meminimalisir dampak ekologis dari kegiatan penyembelihan hewan.
Namun, tidak semua daerah menerapkan prinsip serupa. Di Surabaya, tim gabungan Pemkot masih menemukan warga membuang isi perut hewan kurban langsung ke sungai, mencemari perairan yang sedang dikembangkan menjadi objek wisata.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menyayangkan tindakan tersebut karena mencederai upaya pelestarian sungai. Padahal, kebersihan sungai menjadi bagian penting dari pembangunan kawasan wisata berbasis ekologi.
Langkah preventif juga diambil oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui seruan kepada panitia kurban. Mereka diminta tidak membuang limbah kurban ke got dan saluran air untuk menghindari pencemaran.
Imbauan itu didasari oleh Pergub No. 10 Tahun 2022 yang menekankan pemotongan hewan kurban harus memperhatikan kelestarian lingkungan. Regulasi ini menjadi acuan penting bagi pelaksanaan kurban di perkotaan.
Sementara itu, di Cianjur, pemerintah daerah menurunkan tim dari DLH untuk memantau lokasi penyembelihan. Bupati juga menginstruksikan pembuatan lubang endapan agar darah hewan tidak mencemari aliran sungai.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Eco Qurban tidak sekadar urusan kemasan ramah lingkungan, tetapi mencakup tanggung jawab sosial dan ekologis secara luas. Kurban dijalankan dengan nilai kepedulian terhadap bumi dan kehidupan di sekitarnya.
Jika penggunaan kantong plastik masih tak terhindarkan, warga diajak untuk mencucinya dan menyerahkannya ke Bank Sampah. Dengan begitu, limbah plastik bisa didaur ulang dan tidak langsung mencemari lingkungan.
Kesadaran kolektif menjadi pilar utama dalam menciptakan kurban yang berkah bagi sesama dan bumi. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial seperti Yayasan Bina Bhakti Lingkungan menjadi kunci keberhasilan gerakan ini.
Reporter: Novia Intan
Editor: Khalisha Putri