JAKARTA, ELEVEN – “Kehidupan Murni”, salah satu instalasi karya dalam pameran bertajuk “Angkara” di Hall Polimedia yang menampilkan kondisi orang utan terancam punah. Karya tersebut juga memberikan pesan kehancuran lingkungan akibat ketamakan manusia, Kamis (8/12/2022).
Pembuat karya, Rizky berharap melalui “Kehidupan Murni”, pengunjung dapat lebih peduli dengan lingkungan di negara Indonesia. Khusunya, terhadap penebangan pohon, perburuan orang utan, dan limbah plastik sekali pakai yang dapat merusak tanah.
“Saya di sini mengambil 3 poin, yaitu penebangan hutan, perburuan orang utan secara massal, dan sampah plastik,” tutur Rizky.
Selanjutnya, Rizky menjelaskan setiap unsur dalam karyanya. Ia mengatakan ikatan kain pada balok kayu merepresentasikan penebangan hutan kalimantan secara ilegal.
“Di sini saya ada kain bekas dari kalimantan, diikat di kayu balok. nah, itu menandakan kalo pohon di Kalimantan itu udah sering banget terkena penebangan liar atau massal, yang akibatnya sekarang cuma tersisa balok kayu dari pohon itu,”
Kemudian, boneka monyet bermakna perburuan orang utan secara masif yang berakibat pada populasinya yang menurun. Selain itu, tujuan dirinya mengikat plastik pada boneka untuk kampanye pengurangan sampah plastik sekali pakai yang merusak lingkungan. Terakhir, ini menutup penjelasannya dengan sepenggal kalimat dalam karya tersebut.
“Satwa diburu, hutan menghilang, plastik mengancam, bencana alam datang” tutup.
Sebagai informasi, mahasiswa penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta mengadakan pameran Karya Raya Negeri Maya (KAYA GEMA) bertajuk “ANGKARA”. Acara ini untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa penerbitan Polimedia dan berlangsung di Hall Polimedia pada 7-9 Desember 2022.
Reporter: Enrich Samuel
Editor: M. Nur Alfiyan