ELEVEN,JAKARTA– Sejak September 1982, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mengunakan istilah AIDS (Acqired Immune Deficiency Syndrome) untuk pertama kalinya sebagai pendeskripsian penyakit yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). Dilaporkan bahwa sejumlah kasus AIDS terjadi di Negara-negara Eropa pada akhir tahun 1982, lalu mewabah ke seluruh dunia, maka ditetapkan Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia.
Meski sudah hampir 40 tahun sejak ditemukan, masih banyak mitos seputar HIV/AIDS yang beredar di masyarakat dan perlu diluruskan, karena hal ini membentuk stigma dan diskriminasi pada ODHA (penderita HIV/AIDS).
Bentuk dari stigma yang banyak terjadi antara lain, penolakan dalam berbagai lingkup kegiatan kemasyarakatan seperti dunia pendidikan, dunia kerja, dan layanan kesehatan. Hal tersebut memiliki dampak yang besar bagi program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS termasuk kualitas hidup ODHA. Populasi berisiko merasa takut untuk melakukan tes HIV karena apabila terungkap hasilnya reaktif akan menyebabkan mereka dikucilkan.
Orang dengan HIV positif merasa takut mengungkapkan status HIV dan memutuskan menunda untuk berobat apabila menderita sakit, yang akan berdampak pada semakin menurunnya tingkat kesehatan dan penularan HIV tidak dapat dikontrol. Dampak stigma dan diskriminasi pada perempuan ODHA yang hamil akan lebih besar ketika mereka tidak mau berobat untuk mencegah penularan ke bayinya.
Berikut beberapa mitos yang beredar di masyarakat tentang HIV/AIDS:
1. Seseorang dapat tertular virus HIV bila berdekatan dengan penderita HIV/AIDS.
Kenyataannya, virus HIV tidak menular jika seseorang berada dalam jarak dekat atau bernapas di ruang yang sama dengan penderita HIV/AIDS. Virus ini menular melalui hubungan seksual tanpa kondom, penggunaan jarum suntik secara bersamaan, dan penularan dari ibu ke bayi selama hamil, persalinan, maupun menyusui.
2. Seks oral tidak menyebarkan virus HIV
Ternyata seks oral yang tidak dilindungi kondom tetap berisiko menularkan virus HIV. Risiko penularannya akan meningkat bila pelaku seks oral sedang memiliki luka atau sariawan di mulut, atau bila penerima seks oral sedang memiliki luka di alat kelamin.
3. Pasangan heteroseksual tidak perlu mengkhawatirkan penularan HIV
Seks anal antarpria homoseksual memang memiliki risiko yang paling tinggi untuk menularkan virus HIV. Namun, bukan berarti pasangan heteroseksual tidak berisiko tertular HIV melalui hubungan seks. Seks tanpa kondom dapat tetap menularkan virus HIV. Risiko penularan ini dapat meningkat bila salah satu dari pasangan tersebut memiliki infeksi menular seksual lainnya
4. HIV adalah vonis mati dan penderita HIV pasti akan mengalami AIDS
Saat ini memang belum ada obat yang dapat sepenuhnya membunuh virus HIV. Namun, sudah ada beberapa obat antiretroviral yang dapat memperlambat replikasi (perkembangbiakan) virus HIV. Penderita HIV yang secara rutin menjalani pengobatan memiliki jumlah virus (viral load) yang sangat rendah dan bahkan tidak terdeteksi lagi dalam darah. Semakin sedikit jumlah virus, semakin baik pula ketahanan tubuh penderitanya. Penderita HIV yang rutin menjalani pengobatan dapat menjalani hidup yang sehat dalam waktu yang lama dan tidak mengalami AIDS.
5. Penderita HIV tidak dapat memiliki anak
Bila seorang pria menderita HIV namun rutin menjalani pengobatan hingga viral load dalam darahnya sangat rendah, maka risiko pria tersebut untuk menularkan HIV ke istri dan anaknya juga menjadi sangat rendah atau mendekati nol.
6. Orang yang tidak mengalami gejala HIV/AIDS tidak memiliki virus HIV
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, virus HIV dapat menginfeksi seseorang tanpa menimbulkan gejala selama 10-15 tahun. Orang yang tidak memiliki tanda atau gejala apa-apa belum tentu tidak memiliki virus HIV di dalam tubuhnya.
7. Bila pasangan sama-sama positif HIV, maka tidak perlu menggunakan kondom saat berhubungan seks.
Meskipun kedua pihak sama-sama memiliki virus HIV, penggunaan kondom saat berhubungan seks tetap disarankan untuk mencegah penularan virus HIV yang berbeda tipe (strain) atau yang kebal terhadap obat antiretroviral.
Itulah fakta di balik beragam mitos HIV/AIDS. Para insan dunia mari kita berikan semangat baru kepada teman-teman yang menderita AIDS, jangan pernah membiarkan stigma buruk dan diskriminasi terus terjadi diantara kira, sesama manusia. Sesuai tema Hari AIDS Sedunia tahun 2020 ini, yaitu Global Solidarity, Shared Responsibility atau Solidaritas Global, Tanggung Jawab Bersama.
Reporter: Rivera Jesica
Editor: Audrey Mutiara