ELEVEN, BEKASI – Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek yang diselengarakan pada Jumat, 12 Febuari 2021 mengakhiri tahun Shio Tikus Logam dan akan menjadi awal tahunannya Shio Kerbau Logam.
Arti dan Tujuan Imlek
Sebelum merayakan Imlek, orang Tionghoa akan membersihkan rumah dari sampah dan debu, dengan tujuan untuk mempersiapkan diri agar seseorang bersih secara lahir dan batin pada hari tahun baru.
Perayaan Imlek dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas rejeki selama setahun dan berharap kemakmuran akan datang di tahun depan. Dalam sejarah penduduk Tiongkok kala itu, Imlek merupakan pesta penyambut musim semi dimana pendunduk Tiongkok menggantungkan hidupnya dari bertani, maka mereka merasa hidup kembali setelah mengalami musim dingin yang suram.
Pada dasarnya, perayan Imlek melambangkan keharmonisan dalam tata kehidupan di muka bumi, untuk itu, perayaan Imlek harus jadi momentum ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas kebaikan alam.
Setelah melalui tradisi Ceng Beng, dimana bukan hanya membersihkan rumah tetapi memberisihkan kuburan leluhur dengan tujuan rasa hormat kepada leluhur yang sudah meninggal, lalu setelah merayakan Imlek, lima belas hari kemudian akan merayakan Cap Go Meh sebagai akhir dari ragkaian perayaan.
Sejarah Imlek di Indonesia
Dalam sejarah panjangnya, perayaan Imlek tidak dapat dirasakan seperti ini pada masa Orde Baru dimana Soeharto masih berkuasa atas Indonesia. Berdasarkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang berisi pelaksanaan Imlek yang harus dilakukan secara internal dalam hubungan keluarga dan perseorangan. Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat China dilakukan secara tidak mencolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.
Hingga akhirnya dalam masa jabatan Presiden Habibie menerbitkan Inpres Nomor 26 Tahun 1998 yang berisikan tentang penghentian penggunaan istilah pribumi dan non-pribumi dalam penyelengaraan pemerintah. Lalu Gus Dur mengeluarkan Inpres nomor 6 Tahun 2000 yang isinya mencabut Inpres yang dibuat oleh Soeharto, hingga kebijakan Presiden Megawati yang menindaklanjuti dengan Keppres Nomor 19 Tahun 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional.
Tradisi Imlek
Ornamen serba merah sudah tak asing ditemui pada saat perayaan Imlek. Warna merah sendiri dipercaya membawa keberuntungan dan juga melambangkan kekuatan serta kesejahteraan. Konon katanya, warna ini dapat mengusir Nian atau sejenis mahlakuk buas yang hidup di dasar gunung atau laut yang keluar saat musim semi atau tahun baru Imlek.
Salah satu tradisi yang selalu ditunggu-tunggu pada saat Imlek adalah menerima angpao dari orang yang lebih tua. Angpao hanya boleh diberikan oleh orang yang sudah menikah kepada yang belum menikah saja. Angpao sendiri pun merupakan symbol pemberian rezeki kepada anak-anak dan orang tua.
Reporter : Anasthasya Angel
Editor : Audrey Mutiara
View this post on Instagram