JAKARTA, ELEVEN — Perayaan Imlek di Glodok, Jakarta Barat, menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Selain menjadi perayaan budaya dan tradisi, Imlek juga membawa dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi, khususnya bagi pedagang UMKM dan pedagang musiman di wilayah tersebut.
Salah satu pedagang, Ibu Yanti, seorang penjual pernak-pernik khas Imlek, mengaku telah berjualan selama 14 tahun sejak 2012. Ia mengatakan,
“Tahun ini penjualan naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu,” ujarnya saat ditemui di lapak Glodok”
Menurutnya, produk yang paling laris pada perayaan tahun ini adalah lampion putar listrik.
“Tahun ini banyak permintaan lampion putar. Yang listrik itu sering dibeli,” ujarnya.
Selain lampion, angpao juga menjadi barang yang sering diburu pembeli. Harga angpao dijual mulai dari Rp5.000 hingga Rp35.000. Sementara itu, tempelan atau dekorasi dinding dibanderol mulai Rp10.000 hingga Rp100.000, tergantung ukuran dan jenisnya.
Meski mengalami peningkatan penjualan, Ibu Yanti menyebut tantangan utama yang dihadapi adalah faktor cuaca.
“Kalau hujan saja tantangannya,” katanya. Namun, ia menambahkan bahwa jumlah pembeli relatif stabil. Bahkan, kini sebagian pelanggan memilih memesan melalui WhatsApp untuk kemudian dikirimkan.
Di sisi lain, suasana belanja di Glodok juga dirasakan oleh para pembeli. Michael, warga Jakarta Selatan, datang untuk membeli angpao dan hiasan Imlek.
“Biasanya di keluarga kami membeli hiasan, kue, dupa, lilin, dan angpao,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa makanan memiliki makna simbolis. Jeruk dipercaya melambangkan keharmonisan dan keberuntungan, sedangkan kue keranjang menjadi simbol harapan akan rezeki yang terus meningkat.
Michael juga menjelaskan tradisi pemberian angpao dalam keluarganya. Angpao berisi uang biasanya diberikan oleh anggota keluarga yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Namun, ia mengaku juga memberikan angpao berisi aksesori kecil kepada teman-temannya sebagai bentuk berbagi kebahagiaan.
Selain itu, ia menyebut adanya pantangan saat hari pertama Imlek, yakni tidak membersihkan rumah karena dipercaya dapat “membuang rezeki”.
Dengan meningkatnya antusiasme masyarakat, kawasan Glodok kembali menjadi pusat perayaan dan perputaran ekonomi menjelang Tahun Baru Imlek.
Reporter : Moch Wijaya Putra
Editor : Marsel Efraim Ananda