JAKARTA,ELEVEN – Pencairan Dana Kemahasiswaan (Dankem) IISIP Jakarta pada Jumat (9/1/2026) menyisakan persoalan. Sejumlah Himpunan Mahasiswa (Hima) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mempertanyakan adanya potongan dana sebesar Rp50 ribu per organisasi yang dinilai minim sosialisasi sebelum pencairan dilakukan.
Ketua Umum PAB Caterva, Iqbal, menekankan pentingnya transparansi mengenai peruntukan potongan tersebut guna menghindari kegaduhan di tingkat organisasi.
”Kami meminta transparansi. Dana Rp50 ribu itu digunakan untuk apa saja, harus jelas dan ada bukti catatannya.” tegas Iqbal.
Senada dengan Iqbal, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi), Pauzan, menyayangkan pola komunikasi pihak penyelenggara. Menurutnya, penjelasan mengenai pemotongan dana seharusnya disampaikan sejak awal, bukan saat dana sedang dibagikan.
“Harus ada transparansi dan kejelasan. Jangan tiba-tiba diinformasikan saat pembagian dana. Menurut saya pribadi, secara etika itu kurang tepat.” kata Pauzan.
Pauzan juga menyoroti nominal potongan yang dianggap tidak proporsional dengan kebutuhan administrasi. Ia menilai biaya pencetakan dokumen dan materai untuk organisasi dengan program kerja (proker) sedikit seharusnya tidak mencapai angka tersebut.
”Beberapa Hima atau UKM hanya memiliki tiga proker. Untuk mencetak tiga Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), saya rasa biayanya tidak sampai Rp50 ribu,” tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) IISIP Jakarta, Raihan, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa dana tersebut dialokasikan untuk kebutuhan pengarsipan fisik (hard copy) lembaga dan LPJ. Kebijakan ini diambil untuk merapikan dokumentasi kelembagaan yang sebelumnya belum terarsip dengan baik.
”Potongan itu diperuntukkan bagi pencetakan arsip lembaga kami. Dokumen dicetak sejak awal pencairan dana pertama. Bahkan, menurut perkiraan saya, Rp50 ribu itu sebenarnya masih kurang untuk mencetak LPJ selama tiga semester,” jelas Raihan.
Raihan menambahkan bahwa dalam pengelolaan dana ini, BPM mengacu pada kebutuhan administrasi lembaga. Meski begitu, ia menyatakan bahwa proses pencairan dan pengelolaan dana ini tetap terbuka untuk dievaluasi berdasarkan masukan dari organisasi mahasiswa lainnya.
Reporter: Ani Ratnasari
Editor : Marsel Efraim Ananda