JAKARTA, ELEVEN – Badan Permusyawaratan Mahasiswa (BPM) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta 2022 akan melakukan pelantikan meskipun masih kekurangan anggota. Rencananya, pelantikan akan berlangsung pada 4-9 September 2022 mendatang.
Ketua BPM, Muhammad Rezky Juliansyah mengatakan, BPM akan tetap melakukan pelantikan dan menginformasikan hal tersebut ke pihak kampus. Sebelumnya ia akan melakukan interview terlebih dahulu kepada calon anggota saat proses pelantikan.
“Untuk open recruitment (oprec) dan fixnya kita mulai dari tanggal 26-29 Agustus 2022 dan kemudian menginformasikan ke pihak kampus 1-3 September, baru kita melakukan pelantikan calon anggota 4-9 September. Prosesnya nanti kita melakukan interview terlebih dahulu kepada calon anggotanya,” kata Rezky saat diwawancarai Eleven via WhatsApp, Minggu (28/8/2022).
Rezky menjelaskan, BPM membutuhkan setidaknya 20 orang untuk menjadi anggota demi memenuhi struktur organisasinya. Namun, karena sampai saat ini belum ada lagi yang mengerahkan delegasinya, ia akan tetap melakukan pelantikan meskipun hanya 10 orang yang terdata.
Ia juga mengatakan, akan membuka kembali perekrutan anggota demi mengisi kekosongan kursi BPM.
“Kita akan tetap melakukan pelantikan calon anggota. Iyaa kita butuh 20 orang dalam memenuhi struktur yang ada nanti, siasat kita tetap menjalankan pelantikan kemudian terkait oprec mungkin akan kita buka kembali disaat sudah berjalannya program,” jelas Rezky.
Selain itu, BPM juga akan melakukan diskusi bersama pihak kampus agar mendapatkan bantuan mengenai pelantikan anggota BPM .
“Harusnya ada bantuan, tapi kita akan mendiskusikan lebih lanjut bersama pihak kampus. Bentuk bantuan masih belum tau, karena kami belum mendiskusikannya,” kata Rezky.
Perwakilan Hima HI, Faradila mengatakan, keputusan untuk segera melakukan pelantikan anggota BPM adalah keputusan yang tepat. Hal itu karena jika tidak dijalankan, maka tidak ada lagi lembaga legislatif di kampus.
Menurutnya, walaupun terkesan buru-buru, hal tersebut bisa efektif selagi tidak terlalu memaksakan proker yang berat dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
“Menurut pribadi saya, dengan keterbatasan SDM pada organisasi BPM memang sudah seharusnya tetap memaksakan yang ada, karena jika BPM tidak dicoba untuk dijalankan maka tidak ada lagi dan lagi lembaga legislatif di kampus, adanya kejomplangan. Menurut saya akan efektif jika kita tidak memaksakan proker yg berat dengan keterbatasan SDM,” ungkap Faradila saat diwawancarai Eleven via WhatsApp, Senin (29/8/2022).
“Meskipun saya lebih berharap banyak jika nantinya BPM akan berjalan yang sekiranya diutamakan hal-hal yang penting terlebih dahulu, jika dirasa sudah memuaskan maka kita pertahankan lalu ditambah satu persatu prokernya. Jadi saat ini, bayangan saya kalau BPM bisa berjalan dengan kurangnya SDM jika prokernya pun sesuai dengan ketersediaan SDM yg kurang pula,” tambahnya.
Faradila juga berharap, seluruh Himpunan mahasiswa (Hima) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IISIP Jakarta agar dapat bekerjasama dengan baik, dan terus berkarya dengan adanya BPM nanti.
“Harapan atau pesan buat seluruh Hima/UKM IISIP dari saya pribadi semoga kita semua dapat bekerja sama dengan baik demi kesejahteraan HIMA/UKM dengan adanya BPM nanti, terus bekarya tanpa batas dan sukses terus dengan segala proker yang ada dan dilalui, aamiin,” tutup Faradila.
Reporter: Paundra Zakirulloh
Editor: Siti Nurhaliza