JAKARTA, ELEVEN – Rektor Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Ilham Hutasuhut mengatakan, pihaknya sedang merencanakan perkuliahan Semester Gasal 2022/2023 secara Offline dan Online (hybrid). Ia juga memastikan, IISIP Jakarta akan mengikuti ketentuan pemerintah ataupun satuan tugas (satgas) Covid-19.
“Semester Gasal 2022/2023 kami merencanakan perkuliahan secara offline dan online. Semuanya sedang dipersiapkan, jadwal kuliah, sarana/prasarana dan sebagainya,” kata Ilham saat diwawancarai Eleven via WhatsApp, Sabtu (20/8/2022).
Ilham juga mengungkapkan, nantinya pihak kampus akan mengumumkan sistem dan prosedur perkuliahan tatap muka saat pandemi.
“Pasti kita ikuti ketentuan pemerintah (satgas covid). Nanti akan kita umumkan sistem dan prosedur perkuliahan tatap muka pada saat pandemi,” sambung Ilham.
Salah satu mahasiswa Hubungan Masyarakat 2021, Mimbar Pandu mengungkapkan, ia setuju perkuliahan semester depan secara offline. Hal itu mengingat angkatannya sudah terlalu lama berhadapan dengan laptop tanpa berinteraksi langsung dengan teman ataupun dosen di kampus.
“Menurut saya pribadi, lebih setuju kuliah offline ya. Alasan paling terutama karena sudah terlalu lama kami berhadapan dengan laptop/digital tanpa bisa bersosialisasi secara langsung dengan teman maupun dosen,” ungkap Pandu.
Akan tetapi, salah satu mahasiswa Manajemen Komunikasi 2020, Ary Hanafi mengaku, dirinya lebih setuju perkuliahan tidak langsung dilakukan secara offline, melainkan hybrid terlebih dahulu. Menurutnya, mahasiswa perlu melihat kekurangan dari kampus dan pertimbangan keamanan bagi mahasiswa ataupun dosen.
“Menurut saya pribadi, saya lebih setuju untuk saat ini dilakukan hybrid, dengan alasan kita udah mengalami Covid-19 selama 2 tahun dan tidak mengadakan kuliah offline. Jadi kalau ingin melaksanakan offline menurut saya tidak bisa langsung offline, harus dilaksanakan secara hybrid supaya kita sama-sama tau kekurangan dari kampusnya apa, lalu apakah sudah aman bagi pihak kampus termasuk dosen sampai mahasiswa jika kuliah tersebut diadakan secara tatap muka,” jelas Ary.
Kemudian, salah satu mahasiswa Kesejahteraan Sosial 2019, Salma Safinatunnajah merasa kaget apabila perkuliahan semester depan dilakukan secara offline. Ia merasa, angkatan 2019 melaksanakan perkuliahan offline hanya sampai semester 2 awal, dan kemudian ketika masuk kembali langsung menghadapi skripsi.
“Kalo dari aku sih, awalnya mungkin kaget ya. Soalnya kan angkatan 19 baru ngerasain offline itu sampe semester 2 aja, sisanya online sampai mau skripsi kaya gini. Tapi bagaimanapun offline akan jauh lebih baik dan efektif kalo diliat disisi manapun,” ujar Salma.
Walaupun begitu, Salma mengatakan, siap atau tidaknya tergantung keputusan kampus nantinya.
“Siap ga siap balik lagi ke kepastian dari kampus saja dulu. kalau memang akan offline ya pasti siap, karena dulu-dulu juga seharusnya offline kan,” tutup Salma.
Reporter: Mochamad Tegar
Editor: Siti Nurhaliza