JAKARTA, ELEVEN – Setiap 10 Januari diperingati sebagai Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Gerakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya pohon bagi kehidupan manusia. Lalu, bagaimana awal mula hari peringatan tersebut?
Hari Sejuta Pohon Sedunia pertama kali ditetapkan pada 10 April 1872 sebagai upaya penyelamatan hutan dan kelestarian lingkungan. Kemudian, Gubernur Nebraska Robert W.Furnas memproklamasikan Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia pada tahun 1874, dikutip pikiranrakyat.com, Senin (9/1/2023).
Awalnya, Pemerintah Amerika menghadiahkan satu juta pohon kepada setiap kabupaten di daerah Nebraska. Saat itu, Nebraska sangat membutuhkan pohon sebagai pemecah angin serta menjaga ketahanan tanah.
Lalu, pada 1882 gerakan ini menjadi tradisi di berbagai sekolah-sekolah seluruh negeri. Kemudian, gerakan tersebut membuat anak-anak dapat memahami manfaat pohon bagi kehidupan manusia.
Sementara di Indonesia, Presiden Republik Indonesia Kedua, Soeharto merupakan pencetus Hari Gerakan Satu Juta Pohon dalam pidatonya di Jakarta, 10 Januari 1993. Dalam pidatonya, Soeharto mengajak seluruh masyarakat untuk menanam pohon sampai jumlahnya melampaui satu juta di setiap provinsi.
Gerakan menanam satu juta pohon dapat mengatasi pemanasan global. Hal tersebut lantaran daun pohon menyerap cahaya matahari untuk fotosintesis.
Terdapat beberapa cara untuk memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon, seperti menanam pohon di lingkungan rumah. Kemudian, merawat pohon tersebut demi kelestarian lingkungan. Menanam satu pohon berarti menanam kebaikan untuk masa depan.
Pohon berguna untuk menghasilkan oksigen bagi sistem pernafasan manusia dan mengurangi kandungan karbondioksida di udara. Terdapat tiga tujuan dari Hari Gerakan Satu Juta Pohon, antara lain:
- Mewujudkan lingkungan yang sehat, sejuk dan asri.
- Mengajak kita untuk terus melestarikan pohon yang berperan penting bagi kehidupan manusia.
- Menanam pohon dapat menjaga kestabilan iklim serta mencegah banjir.
Reporter: Mochamad Tegar
Editor: M. Nur Alfiyan